Avatar
Kok Bisa?

Siapa bilang sains itu susah? Daripada nanya sama rumput yang bergoyang, mendingan tanya ke Kok Bisa?

Kenapa Pemimpin Perempuan Hanya Sedikit?

Dilihat 100 kali

Beda sama zaman dahulu, kalau saat ini, rasanya perempuan dan laki-laki udah engga terasa lagi kesenjangannya. Dan, semua rasanya baik-baik aja, kayaknya, semua punya kesempatan yang sama dan setara.

Tapi, faktanya, kalau diliat dari jumlah pemimpin negara dunia, menteri-menteri di Indonesia, posisi karier dalam pekerjaan — kesenjangan nyatanya masih ada. Itu bikin satu pertanyaan besar yang kita punya saat ini: apakah kesetaraan itu jadi ilusi semata?

Kok sendirian aja sih? Teman-temannya kemana?

Kesetaraan?

Hmm, bisa dibilang, ya, kesetaraan ini mungkin belum dirasain sama semua perempuan. Kita setara, tapi belum merata. Itu ditunjukin sama penelitian yang bilang Indonesia ada di posisi 85 dari 149 negara soal kesenjangan gender.

Artinya, perempuan-perempuan Indonesia masih ngadepin banyak masalah yang bikin mereka belum bisa benar-benar punya kesempatan yang sama. Tapi, apakah sebenernya yang menghambat perempuan untuk memimpin?

Hambatan-Hambatan yang dialami oleh Perempuan

Pasti ngga seimbang! Apa yang bikin berat sebelah?

Masalah besar bisa jadi tentang pernikahan anak, yang faktanya 15 persen anak perempuan di Indonesia menikah di umur kurang dari 18 tahun. Selain itu,  tentu aja bahaya untuk kesehatan, itu bikin lingkaran kemiskinan semakin gede karena mereka kehilangan hak buat sekolah, bikin kekuatan ekonomi jadi lemah, sampai nantinya terjebak dalam siklus yang sama, dan akhirnya engga bisa lepas dari kemiskinan yang menjerat sejak lama. Itu tentu aja harus dihentikan!

Ya, pasti banyak yang bilang, perempuan ujung-ujungnya di dapur. Hayo bener ngga?

Kabar baiknya, pemerintah lagi merancang peraturan yang naikin batas minimal perempuan buat menikah. Oke, tapi kalau pun lepas dari isu tadi, masalah rumit lainnya banyak perempuan hadapi. Dari cat calling di jalanan, kekerasan dalam rumah tangga, sampai pemikiran tradisional yang nempatin perempuan dalam kotak pekerjaan domestik rumah tangga. Cita-cita jadi pemimpin dunia terhalang oleh api dalam tungku yang harus dijaga agar tetap menyala.

Sebuah Pilihan Dilematis

Ini sebuah pilihan yang sangat sulit nan dilematis

Meskipun, tentu aja jadi ibu rumah tangga sama mulianya, nyatanya ini bikin perempuan harus milih antara karier atau keluarga, yang bikin persaingan pun jadi engga setara. Di sisi lain, lingkungan pekerjaan ngebentuk laki-laki menjadi lebih superior dalam karier! Padahal, ada penelitian yang nunjukin ada hubungan erat antara kesejahteraan perempuan dengan tingkat ekonomi suatu negara. Semakin sejahtera kaum hawa, semakin maju ekonomi negaranya.

Kata siapa, perempuan ngga bisa memimpin?!?!?!?!?

Semua masalah itu nunjukin jalan terjal buat perempuan untuk jadi seorang pemimpin. Pada akhirnya, kita mesti sama-sama melawan. Ada banyak panutan yang berhasil nunjukin kalau perempuan bisa dan mampu memimpin dan jadi pahlawan. Kesempatan pendidikan yang terbuka kayak sekarang, juga mesti dimanfaatin buat munculin pemimpin-pemimpin perempuan baru di masa depan.

Oke cukup sampai disini!

Lewat satu tulisan ini mungkin ngga bisa menjelaskan semua penyebab atau permasalahan yang ada. Tapi, mungkin ini saatnya perempuan fokus sama kekuatan, bukan ketakutan. Karena, apapun yang kita takutkan ngga punya kekuatan, justru sebaliknya ketakutan kita-lah yang memberikan kekuatan!

Dan seperti biasa, stay curious ya, terima kasih!

Coming soon.

Bagian paling menarik dari ilmu pengetahuan adalah diskusinya! Kok Bisa baru akan merilis fitur ini dalam waktu dekat. Jadiii, jika kamu tertarik jadi orang-orang pertama yang bisa mencoba fitur ini, yuk daftar!

Daftar